Minggu, 08 April 2012

MENDENGARKAN

Biasanya pelajaran pertama yang dipelajari banyak orang untuk menjadi komunikator ulung adalah berbicara. Padahal mendengarkan adalah jalan masuk kebijaksanaan yang utama bagi komunikator ulung yang menjadi landasan untuk memahami diri dan seluruh kehidupan ini.
Sewaktu saya kecil kadang-kadang saya juga tidak menuruti nasihat orangtua, layaknya anak-anak kecil lainnya. Misalnya, sudah maghrib tetapi masih bermain-main di pancuran peninggalan Belanda di dekat pabrik es atau tengah asyik memancing ikan wader di kali. Di desa saya apabila waktu maghrib tiba, maka warga tidak ada yang berada di luar rumah. Mereka pergi ke surau atau masjid. Kalaupun tidak beribadah di surau atau masjid tersebut, warga hendaknya berada di dalam rumah. Sebagai hukuman atas kesalahan itu, ibu menjewer telinga saya.
cimg0120Mengapa hukuman itu berupa jeweran di telinga, tidak di tempat lain, di hidung contohnya? Filosofis, telinga adalah indera paling penting bagi anak-anak dalam memelajari aturan-aturan yang diajarkan orangtua. Orangtua mendidik anak dengan norma-norma melalui mulut mereka kemudian diterima oleh anak-anak melalui telinga mereka. Jadi, anak yang nakal patut dijewer telinganya supaya telinganya itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk belajar. Sambil menjewer telinga biasanya para orangtua berkata, “Jika diberi tahu, dengarkan! Jangan dimasukkan melalui telinga kanan lalu dikeluarkan melalui telinga kiri!”
Kini setelah dewasa, saya tidak pernah dijewer ibu lagi. Bukan karena tidak pernah ada peraturan yang saya langgar, melainkan badan saya sudah lebih tinggi daripada badan ibu. Jadi, bila ibu mau menjewer telinga saya dijamin tidak akan sampai. Lagi pula memang saya tidak pernah nakal lagi. (Bukannya nakal adalah pelanggaran peraturan oleh orang yang belum dewasa? Cobalah sempatkan Anda membaca Kitab Undang Undang Hukum Pidana tentang definisi “nakal”. Oleh sebab itu, bila ada penyebutan hakim nakal, polisi nakal, jaksa nakal, pejabat nakal, maka sebutan itu tidak tepat. Penyebutan yang tepat adalah Hakim jahat, polisi jahat, jaksa jahat, dan pejabat jahat. Sudah tua koq masih disebut nakal!). Malahan ”kenakalan” saya sering sulit dimengerti, sudah bertahun-tahun diajari tetapi saya masih saja tidak mengerti. Mulai dari melanggar lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, mengerjakan tugas secara asal-asalan, hingga tidak memedulikan kesusahan orang lain. Sebagian karena penggunaan telinga yang kurang benar.
Telinga digunakan untuk mendengar dan mendengarkan. Dalam kajian komunikasi, antara mendengar dan mendengarkan artinya berbeda. Mendengar berkenaan dengan penerimaan rangsang suara secara datar dan tidak mendalam atau tidak disengaja. Sedangkan mendengarkan bertalian dengan proses psikologis yang aktif. Proses ini melibatkan hati, pikiran, telinga, dan mata. Dengan kata lain, mendengar hanyalah proses sensasi. Mendengarkan lebih dari sekadar sensasi, melainkan juga berpikir dan berempati. Jadi, mendengarkan bukanlah usaha yang gampang. Mendengarkan adalah usaha yang memerlukan energi dan perhatian yang tinggi.
Dalam huruf Cina untuk kata mendengarkan, yang diucapkan “ting”, tersusun dari empat huruf: hati, pikiran, telinga, dan mata (lihat gambar huruf Cina di sini). Maknanya, si pendengar mesti menggunakan elemen-elemen itu agar hasil dari aktivitas mendengarkan menghasilkan nilai kebaikan dalam berkomunikasi. Nilai ini bermanfaat bukan saja bagi pihak yang mendengarkan, melainkan juga bagi pihak yang berbicara. Gunanya bagi pihak yang mendengarkan adalah bahwa pendengar mampu menerima informasi dengan tepat, memahami maksud orang lain, aspirasi, dan kecemasan mereka. Bagi pembicara hal itu bermanfaat karena ia merasa diterima dan dihargai pembicaraannya, dan terjalinnya hubungan sosial yang erat dengan pendengar. Barang siapa mendengarkan dengan memperhitungkan keempat elemen tersebut, ia akan menjadi pembicara sekaligus pendengar yang ulung. Ya, ia akan menjadi komunikator yang ulung.

Lalu, bagaimanakah cara mendengarkan dengan baik?

Baiklah, supaya Anda lebih mahir mendengarkan dengan baik saya akan membeberkan rahasia ini. (Hanya saja tidak secara rinci karena ruang yang terbatas. Jika Anda mau mengetahui lebih banyak, datanglah kepada saya sambil berkata, “Tolong dong, bagi-bagi informasi tentang mendengarkan yang baik”. Maka, saya pun dengan senang hati akan membagi informasi itu. Setuju?). Walaupun istilahnya mendengarkan, Anda harus memberikan tanggapan ketika saatnya tiba. Seperti ini.
  1. Perjelaslah makna kalimat yang diucapkan oleh pembicara. Contoh, Pembicara, “… sungguh sangat mengecewakan! Sudah jauh-jauh datang ke sini rapat ditunda besok pagi. Orang kan punya banyak urusan, bukan hanya rapat. Padahal kemarin sudah saya sarankan agar rapat segera diadakan sebab acara ini penting”. Pendengar, “Tampaknya ini mengecewakanmu. Kamu sudah mengorbankan waktu, tetapi hasilnya sia-sia…” Pembicara, “Seperti itulah kira-kira perasaan saya. Ya, mungkin saja ada acara yang lebih penting sehingga sampai membatalkan rapat hari ini”.
  2. Memantulkan perasaan atau emosi. Contoh, Pembicara, “Bagaimana mungkin saya bisa bekerja dengan benar kalau belum apa-apa orang sudah curiga dan apatis terhadap tindakan yang akan saya lakukan”. Pendengar, “Itu pasti mengacaukan pikiran”. Pembicara, “Masalahnya, saya tidak bisa bekerja kalau pikiran kalut akibat dicurigai”.
  3. Memantulkan fakta. Contoh, Pembicara, “Hari ini sungguh hari yang aneh. Mau mengambil mobil di bengkel, mobil belum selesai diperbaiki. Telepon Hasan, lama nggak diangkat-angkat. Kemana saja dia? Belum lagi di jalan ada razia, petugasnya cari-cari kesalahan. Dibilang plat nomornya lecet lah, lampu rem nggak nyala lah”. Pendengar, “Hari ini sepertinya banyak gangguan ya?”
  4. Rangkumlah gagasan-gagasan pembicara menjadi satu tema tertentu. Contoh, Pembicara, “Saya sudah mengajukan usul. Kumpulkan dulu teman-teman yang hendak mengikuti study tour ke Jogjakarta. Ajaklah mereka tukar pikiran, sehingga kita dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan rinci. Setelah itu baru dibuat proposal untuk mendapatkan bantuan dana. Lumayan, kan jika nanti kita mendapatkan bantuan dana?”. Pendengar, “Maksudmu pertama melakukan rapat dengan teman-teman. Kedua, baru membuat proposal?”.
  5. Gunakanlah bahasa tubuh, paralanguage, gestur, atau apapun selain mulut anda untuk menunjukkan empati Anda kepada pembicara. (Khusus yang ini perlu rincian yang lebih panjang. Untuk saat ini cukuplah bagi saya menunjukkan pentingnya bahasa tubuh sebagai umpan balik yang produktif

Status yang tidak disukai teman-teman di Facebook

 Sebagai medan interaksi sosial Facebook (FB) juga banyak mengadopsi tatanan pergaulan pada umumnya di dunia nyata. Tatanan sopan-santun, etika, hukum, dan kaidah agama tetap harus dipegang teguh saat orang membuat status. Jika tidak, maka fesbuker akan menanggung risiko yang dapat merugikan dirinya, bahkan merugikan orang lain. Ujungnya tujuan berfesbuk menjadi tidak berhasil. Malahan itu juga berakibat menimbulkan masalah.
Umumnya orang berfesbuk bertujuan menjalin komunikasi dengan teman-teman yang di-add-nya (ditambahkanya). Secara lebih spesifik, mereka menginginkan dapat mengungkapkan perasaan atau pendapatnya. Mereka juga menginginkan terjalinnya pertemanan yang sudah ada dengan lebih erat. Tentu saja, ada juga yang menggunakan FB untuk tujuan mencari pasangan, berbisnis, iseng, mengalihkan diri dari dunia nyata, mencari hiburan, menambah wawasan, atau melatih diri dalam menulis.
Hal yang paling penting dalam FB adalah membuat status. Status adalah pernyataan yang dibuat oleh fesbuker yang dapat dibaca oleh seluruh orang yang telah menjadi temannya. Status ini mencerminkan tujuan dari fesbuker, baik disengaja ataupun tidak. Karena ini merupakan cerminan dari tujuan berfesbuk, isi status dibuat seefektif mungkin. Dengan status yang efektif, fesbuker dapat menuai hasil dari usahanya itu.
Lalu bagaimanakah status yang efektif itu? Apa yang harus dipertimbangkan fesbuker ketika ia ingin agar statusnya mengenai sasaran sesuai dengan tujuannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu tulisan khusus yang mengungkap syarat-syarat pembuatan status yang efektif. Barangkali untuk sementara dapat disampaikan bahwa status yang efektif perlu mempertimbangkan tujuan masing-masing fesbuker berfesbuk. Fesbuker perlu memperdalam dan menguraikan tujuan itu secara lebih rinci. Setelah itu baru ia mempertimbangkan hal-hal lain yang mendukung untuk mencapai tujuan itu. Tulisan ini tidak akan mengungkap secara rinci status yang efektif. Mudah-mudahan pada kesempatan lain hal itu dapat disampaikan di sini. Tulisan ini akan mengungkap status yang tidak disukai oleh para fesbuker yang dapat digunakan sebagai panduan untuk membuat status yang efektif itu.
Berdasarkan penelitian terhadap ribuan fesbuker selama lebih dari satu tahun, di sini dapat dikemukakan beberapa hal yang membuat fesbuker lain tidak menyukai sebuah status dari temannya, yaitu:
1. tidak sopan
2. melanggar kesusilaan
3. tidak jelas
4. mengungkap perasaan yang terlalu pribadi
5. bahasanya kacau
6. menggunakan huruf besar kecil yang ditukar-tukar dalam satu kata dan kalimat
7. sering mengeluh
8. menggunakan kata-kata yang kasar
9. sering menggunakan bahasa yang kurang dipahami (bahasa daerah atau bahasa asing)
10. mencantumkan link yang mencurigakan
11. terus-menerus mempromosikan dagangan
12. mencantumkan gambar atau foto atau video yang vulgar
13. memaki dengan kata-kata yang kasar
14. menyindir temannya secara pribadi
15. terlalu menggurui dalam mengajak kebaikan
16. memuat kembali status orang lain yang sudah klise (peribahasa, humor, gambar)
17. terdapat gambar atau kata-kata yang sadistis
18. mengesankan pamer kekuasaan, kekayaan, ketidak-berdayaan, kenistaan
19. mengatakan hal yang sudah umum
20. terlalu panjang kalimatnya
Mungkin masih ada status-status yang tidak disukai lainnya yang tidak diungkapkan di sini. Namun itulah fakta yang membuat fesbuker tidak menyukai sebuah status. Status yang tidak disukai umumnya tidak menarik minat fesbuker lain yang membacanya untuk memberikan komentar. Padahal komentar adalah umpan balik yang membuat komunikator merasa dihargai, ditemani, atau didukung. Tetapi, status yang sebaliknya yang disukai pun belum tentu mengundang orang untuk berkomentar.

sumber : http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2012/02/05/status-yang-tidak-disukai-teman-teman-di-facebook/#more-1069